​THINKING BEYOND THE OBVIOUS

THINKING BEYOND THE OBVIOUS
Pada tahun 2010 kami tinggal  di Singapore. Kami tinggal di sebuah apartemen di Alexandra Road, tepat di depannya Ikea.  Jadi setiap hari saya bangun pagi dan membuka jendela apartemen langsung melihat logo Ikea besar besar di atas building mereka. 

Saya belajar banyak sekali mengenai cara-cara mereka melakukan bisnis. 

Salah satunya adalah bagaimana cara mereka memperlakukan pelanggan. 
Mari kita lihat beberapa perbandingan antara toko toko mebel lain dan Ikea:
1) Perlakuan kepada pelanggan: 

Toko toko mebel lain berlomba lomba meningkatkan pelayanan ke pelanggan dengan meningkatkan jumlah pelayan toko atau tenaga penjualan. Jadi ketika kita masuk ke sebah toko biasana seorang pelayan toko akan menemui kita dan menanyakan apa yang kita perlukan.

(Which is sometimes helpfull, but sometimes very annoying also when we just want to walk around). 

Di Ikea pada saat anda masuk tidak ada yang menemui anda, anda akan jalan-jalan tanpa terganggu oleh siapapun. Anda boleh memutuskan untuk membeli, atau cuma berjalan-jalan dan pulang tanpa membeli apa-apa dan tidak akan ada yang menunjukkan kekecewaanya kepada anda. 
2) Toko-toko lain didesign sedemikian hingga kita mudah menemukan product yang kita cari.  Di Ikea kita masuk toko dan seringkali harus mencari sendiri product yang kita mau, perjalanan menemukan product itu seringkali lama san kadang-kadang kita tersesat. Tetapi anehnya kita enjoy experience tersebut. Kita disuguhi pemandan menarik (product product lain) dan bahkan kita jadi tertarik dan membeli product lain yang tidak kita rencanakan. 
3) Toko-toko lain berlomba-lomba mendekati pusat perkotaaan. Ikea membuka toko-tokonya jauh di luar pusat perkotaan. Di Singapore Ikea mempunyai toko lain di Tampines (yang jauh dari Orchard area), dan pada saat mereka membuka Ikea di Indonesia mereka membukanya di Alam Sutra.  Mereka begitu yakin bahwa pelanggan tetap akan datang ke toko mereka meskipun lokasi tokonya jauh. 
4) Pada saat toko-toko lain berfokus kepada menjual mebel, Ikea menjual product product lain seperti mainan anak-anak, alat tulis, peralatan dapur dan lain-lain untuk menambah alasan kenapa pelanggan datang ke toko mereka. 
5) Toko-toko lain menggunakan brand, kualitas product, kualitas pelayanan …dll sebagai cara menarik pelanggan mereka, selain hal-hal tersebut, Ikea menyediakan restoran yang enak dan murah. Believe me, this is not a profitable business. Tetapi mereka menggunakan restoran mereka sebagai crowd attractor. Sarana menarik pelanggan. Dengan harapan,  pelanggan yang tadinya datang untuk makan makan bersama keluarga siapa tahu mereka kemudian akan berbelanja. 
Ok let’s stop here. Because today  don’t want to discuss about customer service. Tetapi hari ini saya ingin men challenge and mem provoque the way you think? 

Bagaimana anda begitu yakin bahwa apa yang anda ketahui selama ini ternyata satu-satunya yang benar. Bagaimana seandainya ada cara cara lain berbisnis yang lebih efektif dan membawa hasil yang lebih bagus? 

Apakah kita harus selalu setia pada stigmata lama tentang bisnis kita?

Apakah ada cara cara baru untuk mencapai objective kita dengan lebih baik. Apakah dunia sekeliling kita sudah berganti and we have to change accordingly? Apakah competitor kita sudah lebih open melihat dunia? Apakah kita sudah begitu merasa sempurnanya dan tidak mau belajar lagi? 
Mari kita lihat beberapa phenomena yang terjadi di bawah ini:

– Kodak tidak mampu membaca trend bahwa orang tidak akan mencetak foto lagi. 

– Nokia menolak tawaran kerjasama dari Google (pada saat Google belum sebesar sekarang).

– Disc Tarra tutup pada saat orang tidak lagi membeli CD dan DVD. 
Sementara itu:

– AirAsia tumbuh pesat pada saat menawarkan konsep you pay what you need

– Formula1 di Eropa tumbuh pesat pada saat menawarkan konsep hotel tanpa pelayan (self service hotel)

– Cirque du soleil berhasil karena menjual sirkus tanpa binatang
Apa yang harus anda lakukan untuk bisnis anda?
Mari kita melakukan self reflection:
– Apa yang selama ini kita lakukan ( activites)

– Apa yang ingin kita capai (Objective)

– Mengala kita melakukan dengan cara yang selama ini kita lakukan (why do we do things the way we always did): 

– Apakah ada cara cara cara lain yang bisa kita lakukan untuk mencapai objective kita dengan lebih baik? (Alternative way of working)
Ask those questions continuousy. 
Because often we need to achieve something

We should NEVER starting by asking WHAT (to do) or HOW (we do things), but we should always start by asking WHY we need to do it.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *